|
Banyak orang terlalu banyak berfikir ketika akan memulai usaha. Mesti dimulai kapan? Modalnya darimana? Pemasarannya bagaimana? Dan berbagai pertanyaan lainnya. Akibatnya yang muncul bukan keyakinan, justru keraguan.
|
|
|
Soal, tipping atau memberikan tip di hotel tentu bukan hal baru lagi. Telah membudaya. Apalagi, bila kita sebagai tamu hotel, pasti akan tahu dan harus tahu bahwa member tip itu wajib. Kalau tidak, maka bell boy yang semula ramah mengantar kita membawakan barang ke kamar hotel, akan tetap berdiri di pintu kamar.Apalagi, kalau bukan menunggu tip dari kita. Setelah tip diberikan, dia baru pergi.
|
|
Jika anak kita ingin bisnis seperti profesi yang digeluti orang tuanya, bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai orang tua menghadapi hal itu. Apakah kita apriori atau ingin ikuti saja keinginannya. Saya rasa, kasus ini tak sedikit dialami kalangan pengusaha, termasuk saya sendiri, yaitu ketika anak saya yang masih duduk di bangku SMP juga punya keinginan jadi pengusaha Warnet.
|
|
Ada sebuah referensi menarik yang pernah saya baca, bahwa kebanyakan bisnis di negara barat, khususnya Amerika, adalah bisnis keluarga. Hanya saja, bisnis semacam itu bisa jadi besar atau jadi satu kekuatan ekonomi, asal saja ada kekompakan dalam keluarga.
|
|
Berbeda dengan generasi akhir 1990-an dan awal 2000-an yang umumnya terjun menjadi wirausahawan karena sulit mencari kerja akibat krisis ekonomi yang tengah melanda, generasi pengusaha muda berumur 20-an tahun saat ini tampak memiliki keyakinan diri yang lebih besar. Mereka sejak semula bersungguh-sungguh ingin menjalani hidup sebagai entrepreneur. Salah satu di antaranya adalah Saptuari Sugiharto.
|
|
Ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita simak dari seorang peserta Entrepreneur University angkatan ketiga di Jakarta beberapa waktu lalu. “Kenapa sih Pak, saya tak punya keberanian dalam berbisnis. Rasanya sulit sekali. Apalagi saya cukup punya duit, keahlian dan ide bisnis. Apa mungkin saya bisa berbisnis?” ujarnya.
|
|
Saya sepakat dengan Peter Drost, penulis buku “Reformasi Pengajaran” yang mengungkapkan, bahwa pendidikan di Indonesia tampaknya hanya untuk orang yang pandai-pandai saja, atau yang menonjol nilai akademiknya. Sedangkan pendidikan yang betul-betul diprioritaskan untuk orang yang nilai akademisnya sedang-sedang atau rendah, ternyata belum digarap
|
|
Dalam mengembangkan usaha, kita harus lihai menempatkan posisi kita sebagai pemimpin sebuah usaha. Kata kunci yang terpenting yang harus dikembangkan adalah bagaimana menjadi pemimpin yang bisa bersinergi, bisa bekerjasama dengan pihak lain.
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 8 |