|
Banyak diskusi mengenai bahaya merokok. Di satu pihak mereka yang anti merokok, baik yang sudah maupun yang belum pernah menikmati mengepulnya asap nikotin sambil diselingi menghirup kopi manis kental panas dan ngobrol-ngoborl dengan teman-teman. Dipihak lain, para pengikut posisi pro merokok.
Di sinipun ada yang belum pernah merokok dan biasanya argumentasinya berlandasan kebebasan hak manusia. Kelompok mereka yang sudah pernah merokok atau yang sedang merokokpun sebetulnya tidak homogen. Disini bisa kita temui mereka-mereka yang betul-betul menikmati sedapnya asap rokok.
Bagi mereka rokok bisa menjadi bagian dari sebuah kehidupan yang indah. Tanpa menghisap asap rokok, rasanya hidup itu hampa, kosong tanpa makna.
Dengan asap rokok, ilham-ilham berdatangan seperti hujan di sore hari yang membasahi rambut. Rokok dalam hal ini bisa dipandang sebagai sarana pembantu kelahiran ide genius. Sebagian (kecil) merokok hanya ikut-ikutan saja.
Diskusi tentang masalah ini berlangsung dari jaman ke jaman. Pertanyaan yang sering dilontarkan ialah: apakah merokok itu betul-betul berbahaya? Apakah merokok pasif itupun cukup berbahaya?
Memang, kalau kita mencari-cari, akan kita temukan, bahwa ada orang yang seumur hidupnya merokok dalam jumlah besar perhari, disebut perokok berat atau perokok berantai, yang sampai usia tuanya tidak atau jarang sakit.
Kadang-kadang seolah tidak menderita penyakit yang berhubungan dengan merokok, seperti COPD, Kanker paru-paru dan bronki, penyakit koroner jantung dsb. Tetapi mereka ini merupakan pengecualian.
Dalam kenyataannya, hubungan antara merokok dan penyakit-penyakit tersebut sudah dibuktikan melalui penelitian-penelitian ilmiah sejak bertahun-tahun. Hasil penelitian-penelitian itu representatif dan diakui oleh dunia medis internasional.
Dimana letak bahaya dari merokok?
Tentu saja yang berbahaya ialah asapnya (di samping berbahayanya kalau merokok di ranjang lalu tertidur dan bisa menyebabkan kebakaran).
Asap rokok mengandung paling tidak 4000 zat-zat yang pada umumnya membahayakan kesehatan, biarpun jumlahnya dalam asap yang dihasilkan per batang rokok kecil sekali. Tetapi yang menentukan ialah kumulasinya, kalau seseorang merokok dalam jumlah banyak dan bertahun-tahun.
Asap rokok dibedakan antara asap yang dihisap perokok (kita sebut saja: asap utama) dan asap yang keluar dari ujung rokok (kita sebut saja asap sampingan, bisa mencapai suhu 500°C). Dalam asap yang manakah konsentrasi zat-zat yang berbahaya tersebut lebih tinggi?
Bukan, bukan dalam asap utama yang dihisap si perokok, tetapi dalam asap sampingan, yang dihisap oleh orang-orang yang berada di sekitar perokok tersebut. Dan ternyata konsentrasi zat-zat tersebut mencapai faktor 50 dibanding dengan dalam asap utama.
Tetapi tentu saja jumlah rata-rata yang dihisap oleh perokok pasif ”sambilan” (maksudnya di sini yang istri , suaminya , pacarnya atau bahkan orang tuanya, yang sering berada di sekelilingnya, tidak atau jarang merokok).
Kalau ada pasutri yang salah satunya perokok berat dan si perokok itu tidak (mau) menjauh selama merokok, maka perokok pasif ini akan menghisap asap sampingan dalam jumlah lebih besar dan risikonyapun akan meningkat.
Contohnya konsentrasi formaldehyd yang bisa menyebabkan kanker dalam asap sampingan bisa mencapai 50 x lipat dari di asap utama. Benzol, yang juga merupakan zat yang sangat berbahaya, mencapai faktor 10.
Mungkin kita lalu berpikir: ”Oh, kalau begitu merokok pasif lebih berbahaya!.
Tunggu dulu! Ini tergantung intensitas perokok yang berada di dekat kita. Kalau suami (atau istri J) merokok terus di dekat kita, tentu saja risiko untuk terkena penyakit kanker bagi kita lebih besar dari masyarakat umum yang tidak atau jarang merokok pasif.
Kalau kita hanya sekali per bulan (terpaksa) merokok pasif, maka risiko ini secara statistis kecil sekali. Lalu, zat-zat apa lagi, yang dikandung asap rokok dan bisa menyebabkan kanker?
Beberapa contoh dan kanker yang bisa disebabkan:
- nitrosamin (kanker paru-paru, hidung, hati/liver, rongga mulut, esofagus, pankreas)
- amina aromatis/aromatic amine (kanker kandung kemih, di samping itu mengganggu kesehatan fetus)
- arsen (kanker paru-paru)
- polonium 210 (kanserogen)
- polycyclic aromatic hydrocarbons (kanker paru-paru, pangkal tenggorokan, rongga mulut, servix)
- bensol (leukemia, kanker paru-paru, kanker sumsum tulang)
- cadmium (kanker paru-paru)
Contoh beberapa zat lain yang dikandung asap rokok dan efeknya terhadap kesehatan:
- Nikotin (menyebabkan kecanduan, impotensi, penyumbatan pembuluh darah, tekanan darah tinggi)
- Tar atau getah tembakau (merekatkan cilia di selaput bronki, sehingga efek pembersihan tidak berfungsi lagi, merusak tissue paru-paru)
- Cyanida atau hydrocyanic acid (mengurangi kemampuan tissue untuk menerima oksigen)
- Karbonmonoksida (menghalangi transport oksigen ke organ-organ)
Terlepas dari fakta-fakta tersebut di atas, kita tidak boleh melupakan, bahwa ”bahaya” itu pada mulanya sesuatu yang subjektif dan sering direlatifkan.
Memang kalau kita melihat secara sepihak, bahwa ada orang yang merokok sampai usia lanjut dan tidak terkena kanker paru-paru atau penyakit jantung koroner, maka bagi mereka yang hanya mau melihat itu, merokok bukanlah sesuatu yang berbahaya.
Ataupun kalau mereka sadar akan bahaya ini, mereka tidak menghiraukannya dan akan mengatakan:”Ah, masa sih, merokok kok bahaya. Lihat saya ini, sudah 20 tahun merokok, sehari 2 bungkus, kok masih sehat! Bohong, ah!”
Mereka yang bergelut dalam dunia medis dan sering melihat kesengsaraan dan penderitaan pasien-pasien dengan penyakit-penyakit tersebut di atas, biarpun pada dasarnya kesalahan utama terletak pada diri masing-masing, maka kelompok ini akan berjuang untuk paling tidak mengurangi penyakit kecanduan rokok ini.
Tetapi, pada akhirnya, semuanya tergantung pada pribadi masing-masing, pada situasi dan kondisi, di mana kita ”berada”.
Sumber: kompasiana.com |